Penyakit "Ini Juga Dakwah"
Penyakit "Ini Juga Dakwah"
Oleh: Deden A. Herdiansyah
Dalam forum Indonesia Membina di Monumen Diponegoro (20 Mei 2024), ada pernyataan menggelitik dari Ustadz Aunur Rofiq Saleh Tamhid.
Beliau mengatakan, dalam konteks pelatihan, ada satu penyakit yang berbahaya. Penyakit itu adalah kalimat "Ini juga dakwah". Kalimat yang sebetulnya benar, tetapi berbahaya jika ditempatkan dalam konteks pelatihan.
Memang benar, dakwah mencakup sektor yang sangat luas dan sarana yang sangat beragam. Tetapi dakwah dalam konteks pelatihan artinya membentuk pribadi-pribadi yang siap membina dan bergerak sesuai manhaj jamaah. Membina yang dimaksud dalam makna tersebut berarti lebih spesifik dari makna dakwah yang luas.
Sudah menjadi pemahaman bersama bahwa agenda pelatihan merupakan _core_ dalam jamaah kita. Dia mengibarat jantung dalam tubuh yang mempengaruhinya mempengaruhi eksistensi hidup. Artinya, tanpa adanya agenda pelatihan jamaah kita berjalan menuju jurang kematian. Wal'iyadzu billah.
Namun, fenomena yang muncul dalam beberapa tahun terakhir ada banyak kader yang mengatakan, "Ini juga dakwah". Kalimat itu menjadi semacam pembelaan ketika mereka sibuk dengan dakwah 'ammah dan tidak mau membina.
Bisa jadi mereka bekerja sebagai guru di sekolah Islam, kemudian berkata, "Ini juga dakwah". Bisa juga mereka bekerja sebagai dosen, kemudian berkata, "Ini juga dakwah". Atau mereka bekerja di sektor-sektor lain sambil berdakwah, kemudian mengatakan, "Ini juga dakwah".
Sebagai da'i yang berkecimpung dalam jamaah ini tentu kita memahami tentang makna dakwah 'ammah (dakwah umum) dan dakwah khashshah (dakwah khusus).
Adapun pelatihan merupakah dakwah khashshah, yang berkaitan dengan agenda takwiniyah (pembentukan). Misi kita dalam jamaah ini adalah menyampaikan agenda-agenda dakwah 'ammah menuju agenda dakwah khashshah.
Bisa jadi dalam kenyataannya, ada kader yang mumpuni dalam dakwah 'ammah, tetapi lemah dalam membina. Hal ini dapat dipahami, asalkan tetap fokus pada agenda pelatihan.
Sangat mungkin hasil dari dakwah 'ammah yang dia lakukan selanjutnya diarahkan pada pelatihan, meskipun bukan dia sendiri yang melakukannya, tetapi teman yang ditugaskan.
Nasyrul fikrah bisa kita lakukan seluas-luasnya di forum-forum tabligh akbar, kajian umum, bahkan dalam pergaulan sehari-hari. Tujuannya untuk memperkuat basis sosial (qaidah ijtima'iyah) dan pendukung dakwah ilallah.
Tetapi, dalam perjuangan, kita sangat membutuhkan "rahilah" (unta pemikul beban) yang siap berada di barisan dakwah, dan memikul beban perjuangan. Rahilah itu hanya bisa dilahirkan melalui proses pembinaan, bukan melalui dakwah 'ammah.
Andai saja kalimat "Ini juga dakwah" terus-menerus dimaklumi sebagai pembenaran untuk menghindari keharusan membina, maka dakwah ini akan semakin lemah.
Lalu lambat laun banyak bermunculan kader yang menikmati pekerjaan dunianya, lalu berkata, "Ini juga dakwah". Pekerjaannya menjadi kamuflase dakwah, yang padahal hasilnya dinikmati secara pribadi.
Sungguh, perjuangan ini membutuhkan para pendekar yang telah ditempa di halaqah-halaqah pekanan. Proyek peradaban ini membutuhkan labinah shalihah (batu bata yang baik) yang dicetak pada pertemuan-pertemuan pekanan.
Umat ini membutuhkan rahilah yang dibina di forum-forum pekanan.
Pekerjaan membina itu bukan perkara remeh dan sampingan, tetapi inti dari proyek besar kita. Menjadi aneh dan tidak relevan jika kita sibuk dengan hal-hal sampingan dan mengabaikan hal-hal inti.
Oleh karena itu, mari kita kembali menekuni agenda pelatihan dengan segala daya yang dimiliki.
#Gumregah Tarbiyah #IndonesiaMembina
**Tulisan ini terinspirasi dari taujih Ustadz Aunur Rofiq Saleh Tamhid, 20 Mei 2024.

Comments
Post a Comment