"SAYA TIDAK PUNYA ALASAN"

 🔥🔥🔥 🔥🔥


"Saya Tidak Punya Alasan"*

(Membina Serial Indonesia)



Oleh: Wardoyo



Dalam mengawali setiap forum pelatihan, saya selalu menekankan sebuah aturan tak tertulis, untuk dilaksanakan oleh setiap peserta. Bahwa siapa pun yang tidak hadir dalam pertemuan, harus menyampaikan permintaan izin kepada saya sebagai pembina, dengan menyebutkan alasan.


Demikian pula kelompok pelatihan yang saya ampu di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, beberapa tahun silam. Peraturan tak tertulis tersebut saya tekankan di pertemuan perdana. 


Bulan demi bulan, forum berjalan lancar. Wajar, ada satu dua peserta forum yang tidak hadir, dengan alasan-alasan yang bisa diterima.


Hingga satu tahun pelatihan berjalan. Pada sebuah agenda pertemuan, suatu sore salah seorang peserta menyampaikan pesan singkat. “Ustas, maaf saya izin malam ini tidak bisa berangkat ke forum pelatihan”, demikian pesan singkat masuk ke HP saya.


“Mengapa antum izin akhi? Apa alasannya?” jawab saya. Ini sesuai aturan tak tertulis yang sudah saya sampaikan di awal forum pelatihan. 


Dia tidak membalas pertanyaan saya. Pertemuan pelatihan akan tetap berjalan sesuai jadwal, dan saya tidak memikirkan atau menunggu jawaban pertanyaan terkait alasan tersebut.


Forum pelatihan dilaksanakan di wilayah yang cukup jauh. Sekitar 10 km dari rumah peserta pelatihan yang izinnya tidak ada, dan sekitar 12 km dari rumah saya. 


Malam hari itu hujan cukup deras. Kondisi jalan menuju lokasi pelatihan penuh lubang dan tidak ada lampu penerangan. 


Ruas jalan di kabupaten Gowa tersebut selalu dilalui truk-truk besar pengangkut pasir, dan sangat sering terjadi kecelakaan yang menelan korban jiwa. Biasanya pengendara sepeda motor oleng, terjatuh ke jalan berlubang, sedangkan di belakangnya ada beberapa truk pengangkut pasir. 


Forum pelatihan berjalan seperti biasanya. Dimulainya bakda Isya, sekitar pukul delapan malam. Sampai pukul sebelas malam, forum sudah selesai dan hampir diakhiri dengan doa penutup.


Mendadak ada suara ketukan pintu disertai salam, “Assalamu 'alaikum...”


“Wa 'alaikum salam...,” kami menjawab serempak.


Ternyata yang muncul adalah peserta pelatihan yang telah menyatakan izin tidak hadir. Saya cukup kaget, karena tidak menyangka dia hadir.


Saya persilakan duduk melingkar, bersama peserta forum lainnya. “Bagaimana kabar antum?” tanya saya memecah suasana.


“Alhamdulillah, sehat ustadz...” jawabnya.


“Katanya izin tidak hadir... Kok sekarang datang?” tanyaku.


“Semenjak ustas menjawab pesan singkat sore tadi, dengan menanyakan alasan ketidakhadiran saya, benar-benar saya bingung....” jawabnya.


“Usai shalat Maghrib tadi, saya mencoba mencari-cari alasan... Apa yang akan saya sampaikan ke ustas sebagai alasan ketidakhadiran?” lebih lanjutnya.


“Saya merangkai kemungkinan, apakah kelelahan, sakit, sibuk, membantu kegiatan istri, hujan deras, ada acara di kampung... atau alasan apa lagi? Tapi itu semua hanya alasan yang dicari-cari. Karena aslinya tidak seperti itu…” ungkapnya.


“Aslinya saya tidak punya alasan apa-apa... Jadi saya gelisah karena tidak hadir tanpa alasan. Maka tadi pukul sepuluh saya putuskan untuk tetap berangkat, meskipun hujan... Maafkan saya ustas...” tambahnya.


“Saya benar-benar tidak menemukan alasan yang patut… Saya tidak punya alasan ustas…” ungkapnya. 


Saya termenung mendengar penuturannya. Teman-teman yang telah duduk di forum pelatihan sejak tiga jam lalu juga menyimak dan terkejut. Kami semua merasa salut dan bangga –bahwa akhirnya memutuskan untuk hadir di forum pelatihan.


Kami semua mengetahui, bahwa dirinya memang sibuk, dan mengendarai motor untuk melakukan segala aktivitas. Maka malam ini beliau rela menempuh perjalanan 10 km dengan motor dalam keadaan hujan dan jalan yang gelap tanpa penerangan.


Akhirnya kami semua menambah sesi pertemuan dengan tausiyah dan percakapan ringan. Malam itu kami semua menemukan pelajaran yang sangat penting. 


Seakan kami dibawa ke peristiwa Perang Tabuk, di mana Ka'ab bin Malik tidak hadir. Dan Ka'ab memilih untuk menyatakan apa yang ada di hadapan Nabi saw –bahwa dirinya tidak memiliki alasan.


Perhatikan ungkapan Ka'ab bin Malik saat itui. “Aku mendengar Rasulllah saw telah kembali dari perang Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah saw, supaya aku tidak terkena marahnya”.


“Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi saw segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu… Aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw dan mengatakan dengan sebenarnya”.


“Aku pun mendekati Nabi saw, lalu duduk di hadapannya. Beliau bertanya, “Wahai Ka'ab, mengapa kamu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”


“Aku menjawab: 'Ya Rasululah saw, demi Allah, aku tidak punya udzur... Aku tidak punya alasan...”


Saat itu seolah kami tengah bertemu dengan Ka'ab bin Malik masa kini. Ada rasa haru, namun senang menyatakan di hati kami.


Malam semakin larut. Waktu telah menunjukkan pukul duabelas lewat tiga puluh menit, forum pelatihan kami akhiri dengan doa penutup majelis.


Saya beriringan pulang bersama dengan dirinya. Rumah kami satu arah dengan dia. Hujan sudah hampir reda. Namun malam semakin gelap.


Kami yakin esok akan terbit fajar kebaikan dan kemenangan untuk dakwah kami.


#gumregahtarbiyah #IndonesiaMembina

Comments

Popular posts from this blog

Kedudukan, Fungsi, dan Tujuan Halaqah dalam Dakwah dan Harakah

Ringkasan Risalah Al-Aqa'id Hasan Al-Banna

Inspirasi UHA (209) : TIGA PESAN KH. HILMI AMINUDDIN "Risalah Udzma, Wadzifatul Khilafah, dan Muhimmatud Da’wah" (2)